Mengatur anggaran belanja sebulan dengan budget yang terbatas memang mengerikan. Apalagi jika memiliki keluarga dengan dua orang anak misalkan. Bikin pusing. Namun jika Ummi tidak mengatur keuangan dengan baik bisa-bisa berantakan deh kehidupan di tanggal tua.

Sebagai menteri keuangan di rumah sendiri wanita memang harus benar-benar perhitungan mengeluarkan uangnya. Apa dikit dihitung. Terutama jika cuma diberi budget sejuta sedangkan Ummi fulltime mother. Pasti pusing sekali. Catat kebutuhan dan pengeluaran. Prioritaskan kebutuhan pokok daripada kebutuhan yang sekedar pengen.


Wanita kan doyan belanja. Terus gimana dong?

Betul. Dan saya juga merasakan. Beberapa kali mengalami kalap diskon. Pupung harga murah lalu beli eh ternyata kita tidak sedang butuh barang tersebut dan uang sudah terlanjur habis. Duh, pasti mewek di dada suami sambil protes uangnya kurang kan?

Saya beberapa bulan ini kebetulan berada di dalam kondisi seperti ini. Diberikan budget hanya sejuta di tengah kota yang harga-harga tinggi plus disuruh menabung 200ribu perbulan sama mertua. Duh. Mak'eee aku pengen mulih...

Pertamanya saya benar-benar kaget dan shock.

"Astagfirullah...kok gini amat. Pelit amat!"

Saya nangis hampir setiap hari di bulan pertama pindahan kesini. Setiap malam ngajakin berantem. Hahaha. Enggak juga ding. Hanya sekedar protes.

Tidak mungkin juga uang tersebut kami putar untuk dagang karena kalau uangnya buat modal berarti uang bulanan habis. Belum tentu juga akan cepat laku dan modal cepat kembali.

Saya mulai mencatat anggaran. Satu-satunya sumber uang yang saya catat adalah uang dari suami. Sejuta tet.

Sedangkan uang istri hanyalah milik istri. Ini sengaja saya dan suami menerapkan begini dengan pendapatan pasif saya karena saya mau benar-benar perhitungan. Pelit. Tapi saya berpikir gini "Paling ga, uang saya mau saya gunakan untuk pulang kampung sewaktu-waktu." Bulan kemarin kebetulan kami pulang kampung ke Solo. Bisa berangkat tapi balik kesini lagi terpaksa harus meminjam orang tua karena kehabisan ongkos. 

Sungguh saya tak mau lagi mengulangi hal demikian. Harusnya anak pulang meninggalkan uang untuk orang tua bukan malah minta ongkos pulang. Kalau sekarang sih mungkin sudah ada pinjaman24.id jadi praktis. Tidak merepotkan keluarga disaat yang serba dadakan.


1. Catat Uang Masuk 
Catat dan kurangi 2,5 persen untuk sedekah. Gak banyak kok tapi insyaallah bikin tentram hati ketika kita mengeluarkannya.


Setelah itu baru kurangi untuk investasi. Saya ambil 200ribu request dari mertua. Jadi sisa anggaran yang boleh digunakan untuk kebutuhan harian sekitar 775ribu saja.

2. Catat Semua Kebutuhan Pokok
Mulai dari kebutuhan aneka sabun untuk cuci-mencuci, kebutuhan dapur, transportasi, pulsa dan listrik. Gunakan nominal yang paling hemat. Misal untuk mencuci, saya mencuci seminggu sekali. Setiap mencuci saya budget 5000 untuk membeli deterjen yang 5000an namun bukan yang murah yang tak bisa berbusa. Ada kok yang 5000an. Kalau saya sih cukup untuk mencuci baju kami berempat selama seminggu.


Oh, iya. Saat ini saya menanam sayur sendiri atau meminta sayuran ke kebun mertua dan saudara yang petani sayur. Kenapa ga beli? Sayang. Dan disini sayuran ketika sudah di tangan pedagang di pasar harganya mahal. Misal labu jipan mertua saya menanam. Harga jual dari petani hanya Rp. 1000 saja perkilo. Sedangkan ketika kita membeli ke pedagang harganya gak mungkin seribu atau dua ribu perkilo. Kubis juga begitu. Di sepupu harga yang ia jual ke agen Rp. 6000 perkilo. Brokoli, sawi dll alhamdulillah ada saja yang ngasih.


Untuk uang transportasi memang hanya segitu karena kantor dekat dan kadang mengisi full tank bisa untuk lebih dari seminggu.

Susu anak-anak sudah dibelikan sama neneknya (mertua).

Next saya akan cerita lebih lama lagi tentang dunia anggaran rumah tangga. Ala saya tapi ya. Bukan ala pakar ekonomi.

Memang berumah tangga itu rumit. Terutama ketika awal rumah tangga, pindahan, dsb.